Author: admin
• Sunday, August 22nd, 2010

Siang hari itu Jogja terasa begitu menyengat.. Tak terkecuali di kampus biru..

Teriknya Matahari membuat jalan-jalan di sekitarnya memantulkan fatamorgana.. sesekali tersamarkan oleh kepulan asap hitam yang keluar dari bagian belakang Bus Kopata yang entah sudah berapa tahun umurnya.. Sudah bisa dipastikan, jika dilakukan tes uji emisi maka Bus ini akan berada di deretan teratas kendaraan dengan nilai emisi terburuk..

Tidak cuma satu ternyata, masih ada bus-bus lain yang serupa dengannya.. turut menjadikan udara di Kota Jogja ini semakin mengkhawatirkan.. Kotor, Pengap, Panas, menjadi hal yang kerap dirasakan masyarakat di siang hari, terutama di musim panas seperti sekarang ini.. Bukan.. Bukan bus-bus ini yang kita persalahkan, tapi orang yang duduk di bagian depan sebelah kananlah yang sepertinya harus bertanggung jawab. Bus-bus ini hanya mematuhi apa yang menjadi kehendak pemegang kemudi itu..

Kondisi ini semakin diperparah ketika para mahasiswa di kota pelajar ini mulai meninggalkan sepeda ramah lingkungannya dan beralih untuk lebih menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin itu, bisa dibayangkan bagaimana kondisi udara di kota kecil ini.. maka jangan salahkan ketika alam menjadi tak bersahabat..

Namun, di antara sekian banyak mahasiswa yang sudah beralih untuk menggunakan kendaraan bermotor itu, ternyata masih ada juga beberapa mahasiswa yang masih mau mengayuh sepeda tak bermotornya.. entah karena orang tuanya tidak mampu membelikannya sepeda motor, atau karena memang kesadaran akan lingkungan yang melatarbelakangi mereka untuk tetap menggunakan sepeda sederhana itu, yang jelas alam lebih menyukai apa yang mereka lakukan..

Ya, diantaranya Fitri. Perempuan berkerudung merah itu baru selesai menunaikan titah Rabb-nya di mushola Ibnu Sina, mushola yang kerap digunakan untuk beribadah oleh civitas akademika Fakultas Kedokteran UGM, dan terkadang menjadi tempat istirahat favorit mereka di kala siang menyengat seperti ini.. Ya, Masjid memang selalu menawarkan kesejukan pada setiap orang yang berada di dalamnya.. more…

Author: admin
• Sunday, August 22nd, 2010

Fakultas Kedokteran UGM. Siapa yang tak merasa bangga jika bisa menimba ilmu di tempat ini. Setidaknya bagi mereka yang memang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dengan profesi yang mulia, ya.. menjadi seorang Dokter. Cita-cita yang kerap diucapkan mayoritas anak-anak ketika ditanya ingin menjadi apa mereka jika besar nanti…

Namun tentu saja, tidak semua anak-anak tersebut bisa mewujudkannya.. entah karena perubahan orientasi saat mereka beranjak dewasa, ataupun karena adanya faktor eksternal yang menyebabkan mereka tidak memiliki hak yang sama di mata pendidikan, uang..

Ada yang aneh memang, semenjak kampus ini didaulat menjadi kampus berstatus BHMN-Badan Hukum Milik Negara, citranya sebagai kampus kerakyatan seakan pudar. Pemandangan Kampus yang sebelumnya tampak bersahaja dengan para penuntut ilmu yang kerap berlalu-lalang di area kampus menggunakan sepeda ontel-nya, kini lebih didominasi para mahasiswa yang senang menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua bahkan roda empat..

Entahlah.. mungkin negeri ini memang sudah makmur, sehingga pemandangan seperti ini adalah hal yang lumrah terjadi..

Namun menjadi tidak lumrah kiranya jika hal ini dikaitkan dengan sistem penerimaan mahasiswa baru yang di sana akan tampak jelas bahwa materi menjadi hal yang turut berperan dalam menentukan nasib seseorang untuk boleh atau tidaknya ia mewujudkan cita-citanya.. entah besar atau kecil peran itu, tapi setidaknya akan sulit untuk dinafikan..

Dan demikianlah karakter suatu negara kapitalis, atau negara yang mengekor pada sistem kapitalis.. orang yang memiliki modal maka ia berkuasa, bagi yang tidak memilikinya, ya maaf-maaf saja..

Tapi sudahlah.. tidak perlu terlalu panjang lebar membicarakan masalah ini. Yang jelas, di tengah sistem yang seperti itu, ternyata masih menyisakan celah-celah kecil yang memungkinkan seseorang yang luar biasa, meski berasal dari golongan keluarga yang sederhana, mampu menembus sistem yang demikian adanya, dan berhasil mewujudkan cita-citanya.. more…

Author: admin
• Sunday, August 22nd, 2010

Senin dini hari di perkampungan Gandok..

Jam dinding di ruangan perpustakaan gedung yang mirip asrama itu menunjukkan pukul 02.50. Mirip asrama memang… Gedung berlantai satu itu memiliki 10 kamar yang dihuni sekitar 4-5 orang di setiap kamarnya. Kamar yang tidak terlalu besar, hanya cukup untuk menyimpan beberapa lemari pakaian, satu meja belajar, sejumlah gantungan baju di sudut ruangan, serta satu rak berisi makanan ringan milik salah seorang penghuni yang tengah belajar berwirausaha.

Tidak ada kasur.. hanya karpet tebal yang sedikit kasar yang biasa dijadikan alas tidur di setiap malamnya. Dilengkapi beberapa buah bantal dengan sarungnya yang bermotif.. ehm.. entahlah.. kalo tidak salah awalnya sarung bantal itu putih polos, namun seiring waktu motif itu terbentuk dengan sendirinya..

Tepat di bagian tengah lantai dasar gedung ini terdapat 2 kamar mandi dan satu petak yang dijadikan tempat memasak, agak kurang layak jika disebut dapur.. Di ujung Barat terdapat ruang perpustakaan yang sekaligus difungsikan sebagai tempat penerima tamu. Di ruangan ini pula terdapat satu kamar tempat Ustadz Hasan tinggal. Sang pengasuh pondok..

Hampir setengah gedung itu bersentuhan langsung dengan sebuah masjid, Masjid Gandok namanya.. dan masjid inilah mungkin yang mencirikan bahwa gedung itu bukanlah sebuah asrama biasa, ia menjadi lebih mirip dengan sebuah pondok, ya.. pondok pesantren.. dan akan lebih jelas di siang hari, karena sebuah plang nama terpampang jelas di depan gedung itu.. sebuah papan hijau bertuliskan,

“Pondok Pesantren Takwinul Muballighin, Gandok, Sleman, Yogyakarta”

Di pondok inilah Adin tinggal… di kamar nomor 2 yang berhadapan langsung dengan pintu masuk masjid sebelah Utara, bersama 4 orang temannya. Belum terlalu lama, baru sekitar satu bulan saja.. dan untuk bisa masuk di pondok ini, ia harus bersaing dengan 60 orang lainnya.. dari 60 org itu, hanya 40 orang saja yang berhasil lolos, termasuk dirinya.. more…

Author: admin
• Sunday, August 01st, 2010

Sore hari di kampus biru…

Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk Barat, hanya menyisakan berkas-berkas cahaya jingga yang menembus sela-sela gedung dan pepohonan di sepanjang area kampus. Gedung-gedung yang berdiri megah, dengan arsitektur yang indah, mulai menampakan pesona malamnya dengan balutan siluet dan berkas cahaya kecil di beberapa sudutnya. Daun-daun kuning berserakan hampir menutupi sebagian besar jalan, sesekali terhempas oleh kendaraan-kendaraan yang lalu lalang.

Adzan maghrib baru saja berkumandang ketika seorang perempuan berkerudung merah turun dari mini bus KOPATA berwarna merah yang baru saja mengantarnya dari Stasiun Lempuyangan.

Bus itu berhenti di salah satu sudut Fakultas Kedokteran Gigi, lalu perempuan itu menyeberangi jalan dan berjalan menyusuri gang kecil menuju perkampungan Sendowo. Perkampungan yang dikenal sebagai tempat kost-nya kebanyakan mahasiswa yang kuliah di Fakultas Kedokteran, karena jaraknya tidak begitu jauh dari kampus.

Setelah berjalan kurang lebih 5 menit, perempuan itu pun sampai di salah satu rumah yang baru ia tempati dua bulan ini. Rumah kecil dengan desain sederhana, cat tembok berwarna putih dengan lantai keramik berwarna merah tua. Serambinya penuh dengan hijaunya tanaman, baik yang berdiri di atas pot-pot tua ataupun yang digantung secara beraturan. Halamannya tidak begitu luas, hanya cukup untuk memarkir 2 atau 3 motor saja. Di dalamnya terdapat tiga kamar, satu ruang tengah, dua kamar mandi dan satu dapur di bagian belakang. Kecil memang, tapi cukup untuk dihuni 6 orang mahasiswi yang tengah menuntut ilmu diperantauan..

Wisma Al Khansa, demikian mereka menyebutnya.. sepertinya terilhami dari nama seorang shahabiyah yang dikenal sebagai penyair ulung dan ibunda para syuhada.

Perempuan berkerudung merah itu kini sudah berdiri di depan pintu, ia mengeluarkan kunci dari tas ransel-nya, dan mulai membuka pintu.

“Assalamu’alaikuuuum….!” ucapnya sambil membuka pintu.

“Wa’alaikum salam!” sayup-sayup terdengar jawaban dari dalam ruang kamar depan, dan pemilik suara itu pun keluar dari kamarnya.. more…

Category: Novel  | 2 Comments
Author: admin
• Sunday, July 25th, 2010

JOGJA…

Siapa yang tak kenal dengan kota multi julukan ini.. mulai dari Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Wisata, Kota Gudeg, dan lain sebagainya..

Dari julukan-julukan itu bisa dibayangkan bagaimana kehidupan di kota kecil ini.. ya.. masih tergolong kecil memang jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya.. tapi di situ lah letak keunikannya.. ia senantiasa menjadi tempat yang menyimpan sejuta kenangan bagi orang-orang yang pernah singgah di sana, atau menetap beberapa lama sebagai perantauan..

Untuk yang terakhir ini ada berbagai macamnya, tp diantara berbagai jenis itu, perantau yang paling banyak dan punya berjuta kisah untuk disampaikan adalah kalangan yang sering disebut sebagai “golongan intelektual”.. ya, mereka adalah MAHASISWA..

Dan sore itu.., dari jutaan “golongan intelektual” di Kota Jogja itu, ada satu orang yang tengah duduk di atas sebuah motor ber-letter R.. kalo tidak salah itu adalah huruf pertama plat nomor kebanyakan motor yang berada di daerah Banyumasan.. dan biasanya orang-orang yang menungganginya punya logat bahasa yang tergolong unik jika dibanding kabanyakan daerah jawa yang lainnya..

Motor itu ia parkir di tepian jalan di sekitar Stasiun Lempuyangan.. seperti kebanyakan mahasiswa, ia pun menggunakan jaket almamater kebanggaannya.. dibelakangnya tertulis “elektronika & instrumentasi Universitas Gadjah Mada” dengan sedikit motif yang mengilustrasikan bahwa mahasiswanya suka berkecimpung dalam dunia elektronika dan kelistrikan.. tas ransel yang sepertinya kosong tak berisi ia gendong di punggungnya..biasa lah.. untuk melengkapi tampilan mahasiswanya..

Kepalanya ditutupi helm standar warna hitam.. di samping helm yang ia kenakan, kini ia sedang memegang satu helm warna putih non-standar.. ya.. waktu itu memang belum ada pemberlakuan wajib helm standar, sehingga masih kerap ditemukan para pengendara motor yang menggunakan helm batok tersebut, dan bisa ditebak.. kebanyakan dr mereka adalah.. mahasiswa.. yang mungkin punya banyak keterbatasan untuk bisa membeli helm standar..

Namanya Putra.. begitu ia biasa dipanggil.. ternyata ia sedang menunggu sahabatnya yang baru saja pulang dari Banjar..

“TUUT TUUUUUT TUT TUT TUUUUUUUT…”

Dan kereta yang ditumpangi sahabatnya pun sampai di stasiun itu.. tak lama kemudian gerombolan penumpang buncah keluar melalui pintu yang dijaga petugas karcis..

Diantara gerombolan itu terlihat sosok yang sama sekali tidak asing baginya selama satu tahun ini.. seperti biasa.. jaket hitam, celana panjang abu-abu, tas ransel, dan.. dan.. sebentar.. ada yang lain waktu itu.. biasanya tangannya tidak pernah lepas dari buku, namun waktu itu ia tidak melihat sahabatnya memegang buku seperti biasanya..

Yang ditunggu-tunggu pun mendekat.. baru 2 hari saja mereka tidak bertemu.. tapi pertemuan itu seperti layaknya dua orang sahabat yang sudah beripisahan bertahun-tahun.. more…

Author: admin
• Saturday, July 17th, 2010

Banjar di siang hari..

Matahari hampir tegak lurus dengan orang-orang yang sedang sibuk beraktifitas di kota kecil itu.. temperature-nya mungkin sekitar 30 derajat atau lebih.. sudah beberapa bulan ini memang air hujan enggan untuk turun ke bumi, karena ia menunggu titah Sang Pencipta untuk jatuh di waktu yang tepat..

Di salah satu sudut kota, tampak kumpulan orang memadati satu-satunya stasiun kota yang sudah berumur puluhan tahun itu.. beberapa orang sudah terbiasa menghabiskan hari di sini, mas2 yang membawa dagangan asongan, si mbok yang menggendong bakul berisi sayur-sayuran dan lontong untuk membuat pecel, lelaki paruh baya yang membawa beberapa tangkai mainan boneka kertas, sekilas mirip wayang kulit.. juga sekumpulan anak2 yang membawa susunan tutup botol yang ia rangkai dalam sabatang kayu untuk mengiringinya melantunkan lagu-lagu indah di dalam kereta nanti..

Semua tempat duduk sudah dipenuhi oleh calon penumpang yang hendak bepergian meninggalkan kota Banjar, entah ke arah Barat atau Timur.. tapi kalo dilihat dari cara berpakain mereka dan barang bawaannya, kemungkinan mayoritas dari mereka adalah calon penumpang kereta Pasundan yang tidak lama lagi akan sampai di stasiun ini, dan siap mengantarkan para penumpang hingga ke ujung Timur pulau Jawa..

Ya, alat transportasi ini masih menjadi primadona masyarakat, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah.. selain murah, setiap orang bebas membawa barang apa pun yang hendak mereka sertakan.. mulai dari karung, dus, sepeda, bahkan sesekali terdengar kokok ayam di bawah kursi penumpang.. tdk usah dibayangkan tentang kenyamanan selama perjalanan.. namun walau bagaimana pun, kereta itu tetap setia mengantarkan mereka ke tempat tujuan.. setiap hari.. dari Barat ke Timur, dari Timur ke Barat.. dan menjadi saksi segala peristiwa, kebahagiaan dan kesedihan jutaan orang yang telah ia antarkan..

Siang itu.. seorang pemuda berjaket hitam sedang asyik membaca buku di salah satu tempat duduk di stasiun.. tas berukuran sedang ia simpan tepat di depan kakinya.. sesekali ia tersenyum, sesekali ia mengernyitkan dahi, dan lain waktu ia terlihat tertegun, berfikir serius dan mengangguk-anggukkan kepalanya.. ternyata ia sedang mambaca sebuah novel, novel berjudul “Ayat-Ayat Cinta” karangan Habiburrahman El Shirazy, yang baru ia beli beberapa hari yang lalu dari Masjid Kampus sebelum pulang ke Banjar.. novel yang sarat hikmah, mengandung motivasi, dengan tidak melupakan unsur2 sastra dan romantisme dalam ceritanya.. ia yakin suatu hari nanti novel ini akan menjadi best seller, dan layak mendapatkan penghargaan..

Oh ya, namanya Adin.. seorang Mahasiwa di salah satu perguruan tinggi ternama di Jogjakarta. Saat ini ia baru memasuki semester 3 perkuliahannya..

Dan yang ditunggu-tunggu pun datang.. TUT TUUUT TUT TUUUUUT!!!! suara kelaksonnya melengking membangunkan si Mbah yang sedang tidur lelap di samping Adin, ternyata ia hendak pergi ke Sidareja.. dengan tanpa komando, secara serempak orang-orang bangun dari tempat duduknya dan menghampiri kereta yang hampir berhenti..

Sesaat setelah pintu dibuka, orang-orang dengan serta merta berdesak-desakan untuk bisa masuk dan mendapatkan tempat duduknya masing2.. Adin yang tau kemana si Mbah yang duduk bersamanya tadi akan pergi mencoba membantunya untuk masuk dan mencarikan tempat duduknya untuk beliau.. namun usaha Adin sia-sia.. alih-allih bisa mendapatkan kursi kosong untuk si Mbah, untuk jalan di lorong itu pun cukup sulit saking penuhnya.. dengan sedikit berdesak-desakkan Adin menuntun si Mbah ke tengah gerbong yang agak longgar.. dan tiba-tiba seorang perempuan berkerudung merah bangkit berdiri dan berkata, “Bu, silahkan Ibu duduk di sini…” more…

Author: admin
• Saturday, July 10th, 2010

do you know aljazeera brothers/sisters?

yes you are right..
aljazeera is known as news TV channel that very concern in most political issues all over the world, especially for middle east countries.. but there was something different i saw last night.. do you know what was that? it was surprisingly.. because they talking about our country, about indonesia..

unfortunately, the topics of this news doesn’t make me proud.., why??? because they talking about the most current popular bad issues of our country.. correct! it was about indonesian artists sex scandal in one news program.. and they talking about terrorism in indonesia in another program… both are showed in one night..

which one do you think is a good news???

i agree with you.. both of them are bad news.. and that was blowed up to all over the world by international news tv channel.. it means.. probably people all over the world will give bad assume about our country that known as the largest moslem nation.. it’s very disgraceful!!!

in one hand, it seems we are the country without morality, because millions people of indonesia-includes old and young people (based on survey) have seen the video about these artists sex scandal..
on the other hand, we looks like the radical country, because some people, in the name of jihad, made a lot of bomb tragedy in our country that caused most people died..

what’s going on with us brothers/sisters???

is that us? the people who promise to their God by saying “Asyhadu allaa ilaaha illallah..” and promise to follow the prophet Muhammad, by saying “Wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah”..

i think there is something wrong with us.. or many things..

more…

Author: admin
• Tuesday, June 30th, 2009

(Seri: Mencari Ruh Gerakan para Aktivis - Bagian 1)

November 2008 lalu, Presiden RI memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada M. Natsir. Siapa Mohammad Natsir, barangkali hanya segelintir orang saja yang mengenalnya. Bahkan mayoritas dari kita mungkin hanya pernah mendengar sekilas nama beliau dari penjelasan guru sejarah ketika SD/SMP/SMA (entah lah, saya sendiri sudah lupa), bahwa beliau pernah berjasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan mosi Integral-nya yang mengembalikan Indonesia dari bentuk RIS (Republik Indonesia Serikat) menjadi NKRI. Hal ini kemudian menghantarkan beliau menjadi Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Atau sebagian orang mungkin hanya mengenal beliau sebagai orang yang terlibat dalam “pemberontakan” PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di zaman Soekarno. Sampai kemudian beliau ditangkap dan kemudian diasingkan dari dunia Politik saat itu. Hingga kemudian partai Islam terbesar yang dipimpinnya saat itu, yakni Masyumi dibubarkan oleh Pemerintahan Soekarno yang ditunggangi orang-orang PKI.
Namun bagi saya, sejauh dari apa yang pernah saya pelajari tentang beliau, M. Natsir adalah seorang Da’i, seorang Aktivis Dakwah, seorang Pemikir, seorang Negarawan, seorang Politikus yang ulet dalam memperjuangkan tegaknya kalimat tauhid di bumi Indonesia sejak muda hingga akhir hidupnya. Bahkan, gerak perjuangannya tidak hanya di bumi Indonesia, akan tetapi beliau adalah muslim Indonesia yang diakui sebagai tokoh Internasional sehingga beliau dipercaya menjadi Wakil Presiden Mu’tamar ‘Alam Islami yang bermarkas di Karachi dan menjadi Anggota Terhormat Majlis Ta’sisi Rabithah ‘Alam Islami yang berpusat di Makkah Al-Mukarramah.
Mencoba sedikit menyelami pemikiran beliau, saya kira akan menghantarkan kita pada sebuah kesadaran bahwa Perjuangan Kemerdekaan Negara kita tidaklah selesai manakala Proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan. Akan tetapi masih ada “Cita-cita mulia yang tertunda” yang belum terwujud, bahkan terlupakan. Sehingga menyebabkan bangsa ini semakin terperosok ke dalam jurang kenistaan. Bangsa ini menjadi lupa akan identitas dirinya yang sudah melekat berabad-abad lamanya. more…

Author: admin
• Tuesday, June 30th, 2009

Jum’at, 1 Mei 2009. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Itu artinya 1 jam lagi aku akan menghadapi apa yang selama 1 minggu ini terus membayangi pikiranku.
Kulihat kembali apa yang harus kusiapkan: naskah, laptop, hp terminal, kabel data, hmm… apa lagi ya? oya, bolpoint. Sepertinya sudah lengkap. Sudah…

Kucoba tata hati ini agar tidak gelisah, kucoba redam jantung ini agar tidak berdegup terlalu kencang. Biasa saja. Tidak usah terlalu panik. Ingat sama perkataan salah satu teman. Harus Yakin!!!
Baiklah, sepertinya sudah mendingan. Semua bisa diatasi.

Kubuka kamar kosku. Si Onti sudah menunggu dengan sabar di luar. Siap mengantarku ke medan juang. “Baiklah Onti, ayo kita berangkat…” Ku tuntun ia ke luar rumah. “Bismillah… tawakkaltu ‘alallah… laa haula walaa quwwata illa billah…”
Ku lalui jalanan yang naik di depan rumah sambil tetap menuntun Si Onti.
Setelah di atas, kunaiki ia dan ku kayuh pedalnya. “Ayo Onti…”

Jalanan belum terlalu ramai. Matahari pun belum manampakkan kuasanya.
Sambil menghirup udara pagi, terus ku atur hati dan detak jantung ini agar ia tunduk pada kehendak rasioku. Ya, alhamdulillah otakku masih bisa berpikir rasional, tidak terpengaruh adrenalin yang sedang menunjukkan kerjanya.

Alhamdulillah… sampai juga di kampus. Gedung itu, di dalam gedung itu pertarunganku akan dilangsungkan. Tapi kok masih sepi? Gedungnya pun masih terkunci. Kulihat sudah jam 7 lewat… more…

Author: admin
• Friday, May 01st, 2009

Oleh : Helvi Tyana Rosa

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?”

“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!”

“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

“Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…”Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana… more…