Author: admin
• Saturday, February 09th, 2013

Stasiun kota kecil itu kini tampak lengang.. Hanya beberapa orang saja yang duduk di kursi tunggu, menanti datangnya kereta malam yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan.

Kahuripan, nama kereta itu. Entah bagaimana sejarah awal mula kereta ini dinamakan demikian. Tapi kalo dilihat dari namanya, mungkin agar ada keseimbangan antara kereta siang dan kereta malam. Jika kereta siang dinamakan Pasundan, salah satu kerajaan tua di Jawa Barat, maka Kahuripan adalah salah satu kerajaan tua di Jawa Timur yang pernah didirikan Airlangga pada tahun 1009. Ini menunjukkan adanya upaya harmonisasi antara bagian Barat dan bagian Timur pulau Jawa. Betapapun mereka memiliki jarak yang berjauhan, namun mereka bisa disatukan oleh dua ular besi raksasa ini..

Adin tampak duduk termenung di salah satu kursi yang terletak di ujung stasiun, ditemani paman-nya yang juga tidak terlalu banyak bicara malam itu. Raut muka kesedihan masih tampak dalam cahaya lampu temaram. Beberapa kali pamannya coba mengajaknya bicara tentang aktivitasnya di kampus, agar Adin bisa melupakan kesedihan yang Ia alami, namun sebanyak itu pula Adin hanya menjawab dengan jawaban yang singkat..

Tak lama kemudian, kereta Kahuripan pun datang.. Tepat pukul 12 malam sesuai jadwal. Tak seperti biasanya yang selalu datang terlambat. Tentu keterlambatan ini bukan karena fisiknya yang sudah renta, tapi karena manajemen transportasi di negara ini memang masih perlu banyak dibenahi. more…

Category: Novel  | 59 Comments
Author: admin
• Saturday, February 09th, 2013

Pagi hari di Pondok Takwinul Muballighin..

Usai melaksanakan shalat subuh, para santri tampak sudah memenuhi kursi kelas yang berada di samping masjid Gandok tersebut. Sambil menunggu ustadz yang akan menyampaikan materi, sekitar 40 pemuda itu kini tengah asyik melantunkan Kalam Ilahi dengan lagunya masing-masing, ada yang terdengar melantunkan lagu Sa’ad Al Ghomidi, Sudais, Musyari Rasyid, dan ada juga yang melantunkan lagu.. emm.. entah.. entah lagu siapa, mungkin lagu yang dibuatnya sendiri, yang pasti tetap enak untuk didengar..

Selain 40 orang pemuda itu, seekor cicak yang tempo hari sempat membuat kerusuhan di kamar dua itu pun kini terlihat tengah berdzikir dengan cara-nya sendiri, berdiam di langit-lagit ruangan itu.. Ekornya yang buntung kini sudah tumbuh sekitar satu centimeter, dan malam tadi ia sukses besar dengan perburuannya… Demi melihat Somad berada tepat di bawahnya, sang cicak itu memalingkan muka, lalu beranjak ke arah depan, ia tidak ingin kejadian malam itu terulang lagi.. malam yang tidak akan pernah ia lupakan, yang membuat dirinya kehilangan ekornya..

Sementara itu Adin yang duduk di barisan depan sebelah kiri  kini tengah termenung..

Mushaf-nya masih terbuka, namun bibirnya terdiam, dan pandangannya menembus jauh ke dalam lembaran-lembaran Mushaf itu. Tampaknya ada sesuatu yang ia pikirkan..

Ya. Malam itu ia memimpikan hal yang tidak biasa.. mimpi yang begitu jelas pikirnya.. Padahal ia tidak pernah terlewat untuk membaca do’a sebelum tidur, bahkan selalu ia dahului dengan membaca tiga surat terakhir dalam Al Quran serta Ayat Kursi menjelang tidurnya..

Dalam mimpinya itu, Adin tiba-tiba melihat sosok Sang Nenek, datang bersama dengan dua orang yang wajahnya sepertinya tidak asing baginya.. Wajah itu.. wajah itu.. Subhanallah, mereka adalah.. Ayah dan Ibu-nya.. , Wajah yang sangat ia rindukan selama ini, wajah yang hanya sesekali mampu ia pandangi dari selembar foto yang hampir usang.. Abi.. Umi.. lirihnya.. Ingin sekali ia berjalan ke arah mereka, memeluk mereka dan mencium kedua tangannya.. namun.. tidak bisa, tidak bisa, sekedar untuk melangkah pun ia tidak bisa.. sekedar untuk memanggil mereka pun ia tidak bisa.. bibirnya kelu.. ia hanya bisa tergugu dan terdiam kaku.. more…

Category: Novel  | 70 Comments
Author: admin
• Saturday, February 09th, 2013

Pogung Baru.. Daerah perumahan elit di sekitar kampus UGM. Dikatakan elit karena lingkungannya yang tertata rapi dan struktur bangunan-bangunannya yang tergolong modern. Setidaknya mayoritas seperti itu, karena ada juga bangunan2 model lama, namun tetap terkesan mewah dikarenakan perawatan yang baik oleh pemiliknya. Sehingga dareah ini menjadi tempat hunian yang pas untuk para mahasiswa yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Kebanyakan sih para Mahasiswa S2 yang mungkin bagi mereka biaya kost yang sedikit mahal tidaklah masalah, yang penting nyaman dan bisa mendukung aktifitas belajar mereka. Ada juga beberapa mahasiswa S1 yang berasal dari kota besar, atau dari luar pulau, yang orang tuanya begitu memperhatikan kehidupan anaknya.

Adin pun pernah tinggal selama setahun di lingkungan ini sebelum akhirnya ia tinggal di Pondok Takwinul Muballighin. Seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa tempat ini memang banyak diminati oleh kalangan menengah ke atas.. Nah, Adin sendiri mungkin termasuk yang batas bawah kalangan menengah tersebut. Ia bisa tinggal di salah satu rumah yang sederhana di daerah ini atas saran Kakak kelasnya sewaktu dulu ia pertama kali ke Jogja. Dan harganya memang tidak terlalu jauh dibandingkan harga kost di tempat yang lainnnya.

Selain dua golongan tadi, mahasiswa S2 & mahasiswa S1 yang berkantong tebal, terkadang tempat ini menjadi hunian yang pas bagi para mahasiswa yang berasal dari luar negeri. Di tempat ini kerap ditemukan beberapa mahasiswa bermata sipit dan berkulit putih, atau mahasiswa yang bertubuh jangkung dan berkulit gelap, dan terkadang juga beberapa mahasiswi yang berjbaju kurung dengan motif bunga.. Dari ciri-ciri tersebut bisa dipastikan mereka adalah para mahasiswa yang berasal dari luar Indonesia.

Begitu pula dengan para mahasiswa yang berasal dari Palestina itu.. Teman-teman yang berasal dari Palestine Information Center (PIC) Jama’ah Shalahuddin UGM sengaja memilihkan lokasi ini untuk tempat tinggal mereka, karena mereka adalah tamu yang layak untuk dimuliakan, meski mereka sendiri tinggal di tempat kost yang seadanya.. tentunya itu juga karena anggaran yang mereka ajukan disetujui oleh pihak Kedutaan Palestina di Indonesia.

Dari 5 orang mahasiswa Palestina itu, 3 orang mahasiswa putra tinggal di salah satu rumah sedangkan 2 orang mahasiswa putrinya tinggal di rumah yang lainnya, yakni Fatima & Sara. Mereka tinggal di rumah yang berada di Blok D. Kawasan yang cukup nyaman, tidak terlalu bising dengan kendaraan yang lalu-lalang, masih asri dan cukup dekat dengan jalan Kaliurang. Jika mereka berjalan ke arah Timur, maka mereka hanya perlu menempuh jarak sekitar 300 meter untuk bisa sampai di Jalan Kaliurang. Dan untuk ke kampus, mereka bisa berjalan sekitar 10-15 menit untuk bisa sampai di kampusnya masing-masing. more…

Category: Novel  | 60 Comments
Author: admin
• Saturday, February 09th, 2013

Masjid Kampus UGM…

Salah satu bangunan terindah di sudut Tenggara Kampus Biru.

Masjid dengan arsitektur khas bangunan jawa ini baru selesai dibangun dan difungsikan di awal tahun 2000. Unik memang, tidak seperti kebanyakan masjid yang berada di Nusantara, kubah mesjid ini berbentuk Limas dengan alas berbentuk bintang segi delapan, yang menjadi ciri khas bangunan bernuansa islam. Tiap sisi yang melingkupi kubah ini didominasi warna perak dan warna kuning keemasan secara berselang, sehingga memberikan kesan modern dan elegan..

Sisi Utara dan Selatan ruang utama masjid ini tidak memiliki dinding dan kaca sebagaimana masjid pada umumnya, terbuka begitu saja.. di sisi Timur tertutup oleh dinding yang menjulang tinggi dengan tiga pintu utama yang terbuat dari besi batangan yang membentuk pola tertentu.. di bagian luar dinding ini terdapat kaligrafi bertuliskan “Inna shalati wanusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin, laa syarikalahu wa bidzalika umirtu wa ana awwalul muslimin”.. tulisan berwarna emas dengan latar berwarna merah tua..

Di halaman depan masjid, terdapat kolam segi empat memanjang yang di tengahnya berdiri sebuah hiasan batu yang membentuk lafadz “BISMILLAH” dengan tulisan arab.. Di sisi kanan dan kiri kolam terdapat sejumlah saluran pipa yang sesekali mengeluarkan air mancur ke arah tengah kolam.. ketika sinar matahari jatuh padanya, maka akan terbentuk cahaya pelangi yang indah.. Halamannya luas beralaskan rumput hijau terhampar dan dipenuhi tumbuhan berjenis palem yang berjajar rapi..

Selain ruang utama yang terdiri dari dua lantai, masjid ini juga memiliki sejumlah ruang tambahan di sayap Utara dan sayap Selatan Masjid.. Dua ruangan berbentuk segi delapan yang berada di sebelah selatan digunakan sebagai KB-TK Masjid Kampus dan resepsi pernikahan, sedangkan dua ruangan lainnya di sebelah utara difungsikan sebagai tempat transaksi salah satu Bank Syari’ah dan tempat pelayanan ZISWAF (Zakat Infak Shadaqoh dan Wakaf).

Diantara sekian banyak ruangan itu, terdapat satu petak ruangan kecil di sebelah Selatan Mimbar Masjid, yang menjadi pusat kegiatan mahasiswa yang tergabung dalam UKM Kerohanian Islam Jama’ah Shalahuddin UGM. Ya, kecil memang jika dibanding ruang-ruang lainnya di Masjid Kampus yang megah ini.. namun dari ruang yang kecil inilah impian-impian besar itu lahir.. more…

Category: Novel  | 81 Comments
Author: admin
• Sunday, August 22nd, 2010

Siang hari itu Jogja terasa begitu menyengat.. Tak terkecuali di kampus biru..

Teriknya Matahari membuat jalan-jalan di sekitarnya memantulkan fatamorgana.. sesekali tersamarkan oleh kepulan asap hitam yang keluar dari bagian belakang Bus Kopata yang entah sudah berapa tahun umurnya.. Sudah bisa dipastikan, jika dilakukan tes uji emisi maka Bus ini akan berada di deretan teratas kendaraan dengan nilai emisi terburuk..

Tidak cuma satu ternyata, masih ada bus-bus lain yang serupa dengannya.. turut menjadikan udara di Kota Jogja ini semakin mengkhawatirkan.. Kotor, Pengap, Panas, menjadi hal yang kerap dirasakan masyarakat di siang hari, terutama di musim panas seperti sekarang ini.. Bukan.. Bukan bus-bus ini yang kita persalahkan, tapi orang yang duduk di bagian depan sebelah kananlah yang sepertinya harus bertanggung jawab. Bus-bus ini hanya mematuhi apa yang menjadi kehendak pemegang kemudi itu..

Kondisi ini semakin diperparah ketika para mahasiswa di kota pelajar ini mulai meninggalkan sepeda ramah lingkungannya dan beralih untuk lebih menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin itu, bisa dibayangkan bagaimana kondisi udara di kota kecil ini.. maka jangan salahkan ketika alam menjadi tak bersahabat..

Namun, di antara sekian banyak mahasiswa yang sudah beralih untuk menggunakan kendaraan bermotor itu, ternyata masih ada juga beberapa mahasiswa yang masih mau mengayuh sepeda tak bermotornya.. entah karena orang tuanya tidak mampu membelikannya sepeda motor, atau karena memang kesadaran akan lingkungan yang melatarbelakangi mereka untuk tetap menggunakan sepeda sederhana itu, yang jelas alam lebih menyukai apa yang mereka lakukan..

Ya, diantaranya Fitri. Perempuan berkerudung merah itu baru selesai menunaikan titah Rabb-nya di mushola Ibnu Sina, mushola yang kerap digunakan untuk beribadah oleh civitas akademika Fakultas Kedokteran UGM, dan terkadang menjadi tempat istirahat favorit mereka di kala siang menyengat seperti ini.. Ya, Masjid memang selalu menawarkan kesejukan pada setiap orang yang berada di dalamnya.. more…

Author: admin
• Sunday, August 22nd, 2010

Fakultas Kedokteran UGM. Siapa yang tak merasa bangga jika bisa menimba ilmu di tempat ini. Setidaknya bagi mereka yang memang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dengan profesi yang mulia, ya.. menjadi seorang Dokter. Cita-cita yang kerap diucapkan mayoritas anak-anak ketika ditanya ingin menjadi apa mereka jika besar nanti…

Namun tentu saja, tidak semua anak-anak tersebut bisa mewujudkannya.. entah karena perubahan orientasi saat mereka beranjak dewasa, ataupun karena adanya faktor eksternal yang menyebabkan mereka tidak memiliki hak yang sama di mata pendidikan, uang..

Ada yang aneh memang, semenjak kampus ini didaulat menjadi kampus berstatus BHMN-Badan Hukum Milik Negara, citranya sebagai kampus kerakyatan seakan pudar. Pemandangan Kampus yang sebelumnya tampak bersahaja dengan para penuntut ilmu yang kerap berlalu-lalang di area kampus menggunakan sepeda ontel-nya, kini lebih didominasi para mahasiswa yang senang menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua bahkan roda empat..

Entahlah.. mungkin negeri ini memang sudah makmur, sehingga pemandangan seperti ini adalah hal yang lumrah terjadi..

Namun menjadi tidak lumrah kiranya jika hal ini dikaitkan dengan sistem penerimaan mahasiswa baru yang di sana akan tampak jelas bahwa materi menjadi hal yang turut berperan dalam menentukan nasib seseorang untuk boleh atau tidaknya ia mewujudkan cita-citanya.. entah besar atau kecil peran itu, tapi setidaknya akan sulit untuk dinafikan..

Dan demikianlah karakter suatu negara kapitalis, atau negara yang mengekor pada sistem kapitalis.. orang yang memiliki modal maka ia berkuasa, bagi yang tidak memilikinya, ya maaf-maaf saja..

Tapi sudahlah.. tidak perlu terlalu panjang lebar membicarakan masalah ini. Yang jelas, di tengah sistem yang seperti itu, ternyata masih menyisakan celah-celah kecil yang memungkinkan seseorang yang luar biasa, meski berasal dari golongan keluarga yang sederhana, mampu menembus sistem yang demikian adanya, dan berhasil mewujudkan cita-citanya.. more…

Author: admin
• Sunday, August 22nd, 2010

Senin dini hari di perkampungan Gandok..

Jam dinding di ruangan perpustakaan gedung yang mirip asrama itu menunjukkan pukul 02.50. Mirip asrama memang… Gedung berlantai satu itu memiliki 10 kamar yang dihuni sekitar 4-5 orang di setiap kamarnya. Kamar yang tidak terlalu besar, hanya cukup untuk menyimpan beberapa lemari pakaian, satu meja belajar, sejumlah gantungan baju di sudut ruangan, serta satu rak berisi makanan ringan milik salah seorang penghuni yang tengah belajar berwirausaha.

Tidak ada kasur.. hanya karpet tebal yang sedikit kasar yang biasa dijadikan alas tidur di setiap malamnya. Dilengkapi beberapa buah bantal dengan sarungnya yang bermotif.. ehm.. entahlah.. kalo tidak salah awalnya sarung bantal itu putih polos, namun seiring waktu motif itu terbentuk dengan sendirinya..

Tepat di bagian tengah lantai dasar gedung ini terdapat 2 kamar mandi dan satu petak yang dijadikan tempat memasak, agak kurang layak jika disebut dapur.. Di ujung Barat terdapat ruang perpustakaan yang sekaligus difungsikan sebagai tempat penerima tamu. Di ruangan ini pula terdapat satu kamar tempat Ustadz Hasan tinggal. Sang pengasuh pondok..

Hampir setengah gedung itu bersentuhan langsung dengan sebuah masjid, Masjid Gandok namanya.. dan masjid inilah mungkin yang mencirikan bahwa gedung itu bukanlah sebuah asrama biasa, ia menjadi lebih mirip dengan sebuah pondok, ya.. pondok pesantren.. dan akan lebih jelas di siang hari, karena sebuah plang nama terpampang jelas di depan gedung itu.. sebuah papan hijau bertuliskan,

“Pondok Pesantren Takwinul Muballighin, Gandok, Sleman, Yogyakarta”

Di pondok inilah Adin tinggal… di kamar nomor 2 yang berhadapan langsung dengan pintu masuk masjid sebelah Utara, bersama 4 orang temannya. Belum terlalu lama, baru sekitar satu bulan saja.. dan untuk bisa masuk di pondok ini, ia harus bersaing dengan 60 orang lainnya.. dari 60 org itu, hanya 40 orang saja yang berhasil lolos, termasuk dirinya.. more…

Author: admin
• Sunday, August 01st, 2010

Sore hari di kampus biru…

Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk Barat, hanya menyisakan berkas-berkas cahaya jingga yang menembus sela-sela gedung dan pepohonan di sepanjang area kampus. Gedung-gedung yang berdiri megah, dengan arsitektur yang indah, mulai menampakan pesona malamnya dengan balutan siluet dan berkas cahaya kecil di beberapa sudutnya. Daun-daun kuning berserakan hampir menutupi sebagian besar jalan, sesekali terhempas oleh kendaraan-kendaraan yang lalu lalang.

Adzan maghrib baru saja berkumandang ketika seorang perempuan berkerudung merah turun dari mini bus KOPATA berwarna merah yang baru saja mengantarnya dari Stasiun Lempuyangan.

Bus itu berhenti di salah satu sudut Fakultas Kedokteran Gigi, lalu perempuan itu menyeberangi jalan dan berjalan menyusuri gang kecil menuju perkampungan Sendowo. Perkampungan yang dikenal sebagai tempat kost-nya kebanyakan mahasiswa yang kuliah di Fakultas Kedokteran, karena jaraknya tidak begitu jauh dari kampus.

Setelah berjalan kurang lebih 5 menit, perempuan itu pun sampai di salah satu rumah yang baru ia tempati dua bulan ini. Rumah kecil dengan desain sederhana, cat tembok berwarna putih dengan lantai keramik berwarna merah tua. Serambinya penuh dengan hijaunya tanaman, baik yang berdiri di atas pot-pot tua ataupun yang digantung secara beraturan. Halamannya tidak begitu luas, hanya cukup untuk memarkir 2 atau 3 motor saja. Di dalamnya terdapat tiga kamar, satu ruang tengah, dua kamar mandi dan satu dapur di bagian belakang. Kecil memang, tapi cukup untuk dihuni 6 orang mahasiswi yang tengah menuntut ilmu diperantauan..

Wisma Al Khansa, demikian mereka menyebutnya.. sepertinya terilhami dari nama seorang shahabiyah yang dikenal sebagai penyair ulung dan ibunda para syuhada.

Perempuan berkerudung merah itu kini sudah berdiri di depan pintu, ia mengeluarkan kunci dari tas ransel-nya, dan mulai membuka pintu.

“Assalamu’alaikuuuum….!” ucapnya sambil membuka pintu.

“Wa’alaikum salam!” sayup-sayup terdengar jawaban dari dalam ruang kamar depan, dan pemilik suara itu pun keluar dari kamarnya.. more…

Category: Novel  | 80 Comments
Author: admin
• Sunday, July 25th, 2010

JOGJA…

Siapa yang tak kenal dengan kota multi julukan ini.. mulai dari Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Wisata, Kota Gudeg, dan lain sebagainya..

Dari julukan-julukan itu bisa dibayangkan bagaimana kehidupan di kota kecil ini.. ya.. masih tergolong kecil memang jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya.. tapi di situ lah letak keunikannya.. ia senantiasa menjadi tempat yang menyimpan sejuta kenangan bagi orang-orang yang pernah singgah di sana, atau menetap beberapa lama sebagai perantauan..

Untuk yang terakhir ini ada berbagai macamnya, tp diantara berbagai jenis itu, perantau yang paling banyak dan punya berjuta kisah untuk disampaikan adalah kalangan yang sering disebut sebagai “golongan intelektual”.. ya, mereka adalah MAHASISWA..

Dan sore itu.., dari jutaan “golongan intelektual” di Kota Jogja itu, ada satu orang yang tengah duduk di atas sebuah motor ber-letter R.. kalo tidak salah itu adalah huruf pertama plat nomor kebanyakan motor yang berada di daerah Banyumasan.. dan biasanya orang-orang yang menungganginya punya logat bahasa yang tergolong unik jika dibanding kabanyakan daerah jawa yang lainnya..

Motor itu ia parkir di tepian jalan di sekitar Stasiun Lempuyangan.. seperti kebanyakan mahasiswa, ia pun menggunakan jaket almamater kebanggaannya.. dibelakangnya tertulis “elektronika & instrumentasi Universitas Gadjah Mada” dengan sedikit motif yang mengilustrasikan bahwa mahasiswanya suka berkecimpung dalam dunia elektronika dan kelistrikan.. tas ransel yang sepertinya kosong tak berisi ia gendong di punggungnya..biasa lah.. untuk melengkapi tampilan mahasiswanya..

Kepalanya ditutupi helm standar warna hitam.. di samping helm yang ia kenakan, kini ia sedang memegang satu helm warna putih non-standar.. ya.. waktu itu memang belum ada pemberlakuan wajib helm standar, sehingga masih kerap ditemukan para pengendara motor yang menggunakan helm batok tersebut, dan bisa ditebak.. kebanyakan dr mereka adalah.. mahasiswa.. yang mungkin punya banyak keterbatasan untuk bisa membeli helm standar..

Namanya Putra.. begitu ia biasa dipanggil.. ternyata ia sedang menunggu sahabatnya yang baru saja pulang dari Banjar..

“TUUT TUUUUUT TUT TUT TUUUUUUUT…”

Dan kereta yang ditumpangi sahabatnya pun sampai di stasiun itu.. tak lama kemudian gerombolan penumpang buncah keluar melalui pintu yang dijaga petugas karcis..

Diantara gerombolan itu terlihat sosok yang sama sekali tidak asing baginya selama satu tahun ini.. seperti biasa.. jaket hitam, celana panjang abu-abu, tas ransel, dan.. dan.. sebentar.. ada yang lain waktu itu.. biasanya tangannya tidak pernah lepas dari buku, namun waktu itu ia tidak melihat sahabatnya memegang buku seperti biasanya..

Yang ditunggu-tunggu pun mendekat.. baru 2 hari saja mereka tidak bertemu.. tapi pertemuan itu seperti layaknya dua orang sahabat yang sudah beripisahan bertahun-tahun.. more…

Author: admin
• Saturday, July 17th, 2010

Banjar di siang hari..

Matahari hampir tegak lurus dengan orang-orang yang sedang sibuk beraktifitas di kota kecil itu.. temperature-nya mungkin sekitar 30 derajat atau lebih.. sudah beberapa bulan ini memang air hujan enggan untuk turun ke bumi, karena ia menunggu titah Sang Pencipta untuk jatuh di waktu yang tepat..

Di salah satu sudut kota, tampak kumpulan orang memadati satu-satunya stasiun kota yang sudah berumur puluhan tahun itu.. beberapa orang sudah terbiasa menghabiskan hari di sini, mas2 yang membawa dagangan asongan, si mbok yang menggendong bakul berisi sayur-sayuran dan lontong untuk membuat pecel, lelaki paruh baya yang membawa beberapa tangkai mainan boneka kertas, sekilas mirip wayang kulit.. juga sekumpulan anak2 yang membawa susunan tutup botol yang ia rangkai dalam sabatang kayu untuk mengiringinya melantunkan lagu-lagu indah di dalam kereta nanti..

Semua tempat duduk sudah dipenuhi oleh calon penumpang yang hendak bepergian meninggalkan kota Banjar, entah ke arah Barat atau Timur.. tapi kalo dilihat dari cara berpakain mereka dan barang bawaannya, kemungkinan mayoritas dari mereka adalah calon penumpang kereta Pasundan yang tidak lama lagi akan sampai di stasiun ini, dan siap mengantarkan para penumpang hingga ke ujung Timur pulau Jawa..

Ya, alat transportasi ini masih menjadi primadona masyarakat, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah.. selain murah, setiap orang bebas membawa barang apa pun yang hendak mereka sertakan.. mulai dari karung, dus, sepeda, bahkan sesekali terdengar kokok ayam di bawah kursi penumpang.. tdk usah dibayangkan tentang kenyamanan selama perjalanan.. namun walau bagaimana pun, kereta itu tetap setia mengantarkan mereka ke tempat tujuan.. setiap hari.. dari Barat ke Timur, dari Timur ke Barat.. dan menjadi saksi segala peristiwa, kebahagiaan dan kesedihan jutaan orang yang telah ia antarkan..

Siang itu.. seorang pemuda berjaket hitam sedang asyik membaca buku di salah satu tempat duduk di stasiun.. tas berukuran sedang ia simpan tepat di depan kakinya.. sesekali ia tersenyum, sesekali ia mengernyitkan dahi, dan lain waktu ia terlihat tertegun, berfikir serius dan mengangguk-anggukkan kepalanya.. ternyata ia sedang mambaca sebuah novel, novel berjudul “Ayat-Ayat Cinta” karangan Habiburrahman El Shirazy, yang baru ia beli beberapa hari yang lalu dari Masjid Kampus sebelum pulang ke Banjar.. novel yang sarat hikmah, mengandung motivasi, dengan tidak melupakan unsur2 sastra dan romantisme dalam ceritanya.. ia yakin suatu hari nanti novel ini akan menjadi best seller, dan layak mendapatkan penghargaan..

Oh ya, namanya Adin.. seorang Mahasiwa di salah satu perguruan tinggi ternama di Jogjakarta. Saat ini ia baru memasuki semester 3 perkuliahannya..

Dan yang ditunggu-tunggu pun datang.. TUT TUUUT TUT TUUUUUT!!!! suara kelaksonnya melengking membangunkan si Mbah yang sedang tidur lelap di samping Adin, ternyata ia hendak pergi ke Sidareja.. dengan tanpa komando, secara serempak orang-orang bangun dari tempat duduknya dan menghampiri kereta yang hampir berhenti..

Sesaat setelah pintu dibuka, orang-orang dengan serta merta berdesak-desakan untuk bisa masuk dan mendapatkan tempat duduknya masing2.. Adin yang tau kemana si Mbah yang duduk bersamanya tadi akan pergi mencoba membantunya untuk masuk dan mencarikan tempat duduknya untuk beliau.. namun usaha Adin sia-sia.. alih-allih bisa mendapatkan kursi kosong untuk si Mbah, untuk jalan di lorong itu pun cukup sulit saking penuhnya.. dengan sedikit berdesak-desakkan Adin menuntun si Mbah ke tengah gerbong yang agak longgar.. dan tiba-tiba seorang perempuan berkerudung merah bangkit berdiri dan berkata, “Bu, silahkan Ibu duduk di sini…” more…